Rantau Panjang dalam Tradisi


Khatamul Qur'an, nilai-nilai kebudayaan islami yang masih dipertahankan Melayu Kayong. Hajatan ini, selain sebagai motivasi, juga ungkapan rasa syukur orang tua ke anaknya. Bersyukur karena anaknya bisa membaca dan telah khatam membaca al-Qur'an.
Tradisi Khataman al-Qur'an ini, sejak lama masih dipertahankan di Tanah Kayong (Ketapang - Kayong Utara) khususnya. Mungkin, ratusan tahun yang lalu, tradisi ini telah ada.
Biasanya, anak-anak yang berkhatam, akan diarak menggunakan replika pesawat, sapi, unta dan sebagainya. Dengan menunggangi replika tersebut, sembari diiringi tar dan lantunan Haddrah.
Ada kebanggaan tersendiri, bagi orang tua yang bisa dan mampu melaksanakan hajatan tersebut. Pesan moralnya, agar anak-anak kelak mencintai al-Qur'an, memahami isi dan mengamalkannya. Intinya, orang tua ingin anaknya menjadi generasi Qur'ani. Serta bisa menjadi motivasi bagi generasi berikutnya.
Malam sebelum pelaksanaan khataman Qur'an, biasanya diisi dengan acara bertar (begendang). Tar atau rebana (rabana) merupakan alat musik yang mengiringi al-Haddrah. Sedangkan al-Haddrah adalah kitab yang berisi pujian-pujian kepada Allah dan Rasullullah.
Bukan sekedar berisi pujian saja, Haddrah juga berisi pesan-pesan moral dan petunjuk buat manusia. Kerena Haddrah dikarang oleh seorang ulama terkemuka pada masa generasi setelah tabi'in. Yaitu, Syaikh Abdullah bin Ahmad BaSaudan.
Sebagai genarasi Rantau Panjang, generasi penerus bangsa, semoga kita dapat merawat tradisi baik ini. Mempelajari dan melestarikannya, sebagai nilai kebudayaan luhur bangsa.
Alhamdulillah, geliat mempertahankan budaya positif semakin tumbuh di Rantau Panjang. Terbukti hari ini (16/6/2019), remaja Dusun Makmur berani tampil mengarak peserta khataman al-Qur'an. Bukan hanya remaja putra, pemainnya juga remaja putri.
Bangkitnya generasi Rantau Panjang dalam mempertahankan khazanah budayanya, tentu peran besar guru-gurunya. Serta kesungguhan remaja tersebut dalam berlatih.
Sebab, kalau bukan kita siapa lagi penerusnya. Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi kita mempelajarinya. Demikian prinsip yang ditanamkan guru-guru seni tersebut.
Tidak hanya kebudayaan Melayu saja yang harus lestari di Rantau Panjang, sebagai etnis mayoritas. Kebudayaan Jawa, Thionghua, Dayak dan lainnya harus lestari juga di Bumi Perantau. 
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sponsor

Berita Populer

PEMERINTAH DESA RANTAU PANJANG. Diberdayakan oleh Blogger.

Categories

Blog Archive

Recent Posts

Unordered List

  • #
  • #
  • #

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.